Jumat, 01 Januari 2010
Satu Resolusi Untuk Tahun 2010
Pada tahun 2010 ini setelah melakukan perenungan diri, maka saya pribadi menetapkan satu resolusi untuk tahun 2010 yaitu fokus meningkatkan kemampuan jiwa dalam bersyukur, sebab selama hidup ini saya sudah sering bikin banyak resolusi, namun dalam point tersebut sering terlewatkan, semoga lebih sukses dan lebih berkah. Amin.
Jumat, 20 November 2009
Mendendangkan Tembang Ilir-ilir
Setiap pagi untuk menyemangati dan memotivasi diri setelah sholat Subuh biasanya saya melakukan alphamatic dan setelahnya sudah menjadi kebiasaan saya memutar lagu Ilir-ilir yang dibawakan oleh Emha Ainun Nadjib dalam album Menyorong Rembulan. Dan saking seringnya memutar tembang tersebut akhirnya kebiasaan tersebut juga disukai dan ditiru oleh anak-anak dan istri saya di Tegal Jawa Tengah, memang lagu tersebut identik dengan penyebaran agama Islam di wilayah pantura pulau Jawa yang disampaikan oleh para Walisongo, lagu tersebut identik dengan Sunan Kalijaga.
Makna Religi Dalam Tembang Ilir-ilir
Sumber : Republika Online
SASTRA kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan menuju alam akhirat yang kekal dan abadi. Hampir sebagian besar masyarakat Jawa, mengenal tembang Ilir-Ilir yang dibuat oleh Raden Said atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, salah seorang wali yang tergabung dalam Walisongo (Sembilan Wali) dan menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Dalam salah satu riwayat, yang menciptakan tembang Ilir-Ilir adalah Sunan Ampel. Kesembilan wali tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Gunung Jati (Cirebon), Sunan Kudus (Kudus), Sunan Giri (Gresik), Sunan Muria (Gunung Muria) dan Sunan Kalijaga (Demak). Tembang Ilir-Ilir adalah salah satu dari sekian banyak tembang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat Jawa.
Seperti diketahui, sebelum memeluk Islam sebagian besar masyarakat Jawa pada zaman dahulu memeluk agama Hindu. Karena itu, tak heran bila pengaruh Hindu begitu dalam merasuk pada sanubari masyarakat Jawa. Apalagi, berbagai kesenian dan kebudayaan Hindu hampir telah menjadi keseharian masyarakat Jawa. Agar agama Islam bisa diterima dengan baik di kalangan masyarakat Jawa, para Walisongo menyebarkan Islam secara bijaksana, yakni mewarnai pengaruh Hindu itu dengan ajaran-ajaran Islam sesuai petunjuk Al Quran dan Hadits.
Dengan demikian, masyarakat Jawa pun secara perlahan-lahan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana tuntunan Al Quran dan Hadits. Selain itu, konsep yang ditanamkan para Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat adalah dengan berdekatan secara langsung dengan kebiasaan masyarakatnya, namun tetap berpegang pada ajaran Islam. Itulah yang tampak dari tembang syair yang terdapat dalam Ilir-Ilir yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.
Berikut tembang syair Ilir-Ilir tersebut ;
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir, dondomana jlumatana, kanggo seba mengko sore. Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane, yo surako, surak hiyo.
Menurut G. Surya Alam dalam bukunya, wejangan Sunan Kalijaga, tembang Ilir-Ilir tersebut mengandung nasihat atau wejangan untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Bila direnungkan secara mendalam, apa yang tersirat dalam suratan tembang Ilir-Ilir tersebut, secara global mengandung empat hal.
Pada bait pertama, bertutur tentang bangkitnya iman Islam. Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima rukun Islam semaksimal mungkin. Bait ketiga, menganjurkan untuk tobat dan memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan. Perbaikan itu diharapkan menjadi bekal untuk menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Sedangkan bait keempat, mengajak umat untuk segera memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan sebelum datang kesempitan, selagi sehat sebelum datang sakit, selagi mudah sebelum datang kesulitan, selagi muda sebelum datang masa tua.
Makna Tembang Ilir ilir
Sumber : Citizen News Suara Merdeka
Tembang ini sering dianggap sebagai tembang dolanan atau lagu yang dinyanyikan saat bermain-main oleh anak-anak pada saat terang bulan. Bahkan di daerah Jogja dan sekitarnya tembang ini dinyanyikan pada saat bermain Nini Thowok atau Jalangkungan.
Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna mendalam terkandung dalam tembang sederhana ini. Sekalipun demikian tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Ada yang berpendapat penciptanya adalah salah seorang dari Walisongo atau Sembilan Wali yang terkenal sebagai para penyebar Islam di tanah Jawa. Dari kesembilan waliyullah itu ada dua orang yang disebut-sebut sebagai penciptanya yaitu Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.
Pendapat itu bisa dimengerti, dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai alat syiar agama Islam, maka bisa dianggap bahwa Sunan Kalijagalah yang merupakan pencipta tembang ini.
Berikut ini adalah penjabaran dari makna yang terkandung dari tembang Ilir-ilir itu, baik berupa makna harfiah atau terjemahan langsungnya dalam bahasa Indonesia (BI), maupun makna sesungguhnya (MS) yang tersirat di dalamnya.
Ilir-ilir
Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
(BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
(MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet.
Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.
Mumpung padang rembulane, mumpun jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.
Ya suraka, surak hiyo
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.
Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini.
Sabtu, 14 November 2009
The Culture of Kepepet or The Power of Kepepet ???
Tulisan singkat ini sebagai refleksi diri setelah mengamati dan mengalami beberapa kejadian yang hanya terlihat di permukaan tanpa mendalam, yang hanya terlihat sebagai sekedar evoria tanpa kesadaran diri (keyakinan yang bulat) dan yang terlihat hanya topeng tanpa wajah aslinya. Mungkin beberapa diantara kita menyebutnya sebagai kebiasaan atau lebih dalam lagi sebagai karakter atau lebih kepermukaan lagi yang terlihat sebagai attitude, namun saya lebih senang menyebutnya sebagai budaya yang sudah mengakar, entah karena proses pendidikan yang kurang tepat, entah teladan yang kurang baik dari generasi pendahulunya atau hanya sebuah proses endapan mental sebagai warisan generasi yang serba abrakadabra (instan), jawabannya embuh aku ora eruh (entah saya tidak tahu persis).
The power of kepepet lebih menggambarkan munculnya kekuatan dalam diri kita setelah terdesak oleh situasi dan kondisi terpaksa, namun sekali lagi saya lebih senang menyebutnya sebagai the culture of kepepet, yaitu budaya kita yang serba kepepet, mau buka usaha setelah terjepit di PHK, mau mengaku kesalahan setelah terkena ancaman hukuman berat, mau tobat setelah ajal ada dikerongkongan, mau sedekah setelah terbelit persoalan rumit, mau mengambil tindakan setelah ada demo besar-besaran, mau sadar diri setelah datang kesempitan, mau lari kencang setelah dikejar-kejar anjing, mau mengatur keuangan setelah keuangan habis terbelit hutang dan kredit, para karyawan di negeri kita juga mau matian-matian mengerjakan tugas kantor setelah kepepet deadline waktu. Dan seterusnya yang menyimpulkan bahwa kepepet kok jadi budaya, saat waktu luang sebagian besar kita lebih memilih dengan budaya santai, permisif dan kompromi atau aji mumpung sedang lapang santai saja, permisif saja dan kompromi saja.
Disisi lain giliran beberapa generasi mendapat kesempatan belajar di luar negeri, setelah pinter pulangnya membawa seabrek budaya masing-masing negara dimana dia belajar, yang belajar di negeri A inginnya menerapkan budaya negeri A, yang belajar di negeri B inginnya menerapkan budaya negeri B. Saking fanatiknya sampai-sampai cara berpakaiannyapun menggunakan simbol-simbol budaya dimana dia belajar, belum lagi pemikiran dan prinsip-prinsip lainnya yang dipelajarinya. Tidak salah sih mengambil yang baik-baiknya, namun ada baiknya jangan ditelan bulat-bulat, namun sayang kita lebih banyak kehilangan kepercayaan diri karena tidak punya identitas diri. Padahal kita itu pinter-pinter, namun sayang pinternya kalau sudah kepepet, demikian juga kita itu bisa menjadi orang yang baik namun sayang kebaikannya muncul setelah kepepet, jadi kita itu mau benar-benar berubah setelah situasi dan kondisi yang memposisikan serba kepepet.
Jadi tantangan bagi saya pribadi dan kita semua adalah bagaimana kita bisa membangkitkan dan menggunakan power yang ada dalam diri kita tanpa harus kepepet dulu, justru lebih indah dan nikmat kita bisa mengakses power dalam diri kita, memanage perubahan dan melakukan evaluasi disaat kita waktunya masih luang dan disaat kita masih jaya. Bukan setelah segala sesuatunya serba kepepet, terpuruk dan ambruk baru sadar diri terbangkitnya power untuk melakukan perubahan dan melakukan evaluasi, akhirnya hal tersebut jadi kebiasaan, jadi karakter atau bahkan menjadi premium attitude kita. Kalau saya menyebutnya hal tersebut menjadi budaya bahwa kekuatan (power) dalam diri kita selalu akan muncul dan bangkit setelah situasi dan keaadaan yang serba kepepet. Sehingga wajarlah kalau dalam dunia ekonomi negeri kita tingkat konsumsi retail dan rekreasi menjadi favorit kita semua, karena sebagian besar waktu kita digunakan untuk santai, permisif dan kompromi.


